Nilai Jual Buah Kelapa di Inhil Semakin Memprihatinkan

REDAKSIRIAU.CO, INDRAGIRI HILIR - Sejumlah petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Provinsi Riau semakin dibuat tidak berdaya dengan nilai jual yang semakin diluar harapan mereka.

Anjloknya harga jual buah kelapa yang semakin hari semakin dikeluhkan oleh para petani ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan yang lalu dan hingga kini belum menampakkan kenaikan harga.

"Beberapa bulan yang lalu masih mencapai harga dua ribuan, tapi sekarang hanya tinggal seribu lima ratus saja perkilonya," sebut Yunus salah seorang petani di Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS), Senin (12/2/2018).

Dengan nilai jual seperti itu, katanya Yunus mengungkapkan, masyarakat khususnya para petani yang hanya berpenghasilan dari berkebun kelapa tentunya akan terganggu secara perekonomiannya dan akan berdampak buruk pada taraf hidup yang mereka jalani.

"Kita kan hanya mengandalkan dari kelapa disini, tentunya dengan harga yang sangat murah seperti ini sangat membuat kita semakin susah, apalagi sekarang harga makanan semakin naik, mana seimbang dengan penghasilan kami," ungkapnya.

Tidak hanya Yunus yang mengeluhkan kondisi harga jual buah kelapa tersebut, Robi salah seorang petani di Kecamatan Concong Kabupaten Indragiri Hilir juga mengungkapkan hal yang sama, menurut pengakuannya, saat ini nilai jual buah kelapa di daerahnya hanya tinggal Rp 1000 perkilogramnya.

"Kalau disini lebih parah lagi, sekilo hanya seribu rupiah," katanya.

Kondisi seperti ini tentunya benar-benar membuat semakin tertekannya para petani kelapa yang harus merogoh kantong untuk biaya perawatan kebun kelapa yang tidak sedikit, nilai jual yang diharapkan sesuai dengan harapan mereka pun hingga kini belum pernah mereka rasakan dan mungkin hanya menjadi isapan jempol belaka.

"Yang kami rasakan selama ini semakin parah saja, bukannya semakin naik harganya tapi semakin menurun seperti sekarang ini, kalaupun ada kenaikan harga, itu tidak bertahan lama, paling hanya hitungan minggu saja lalu turun lagi, jadi mana sesuai dengan harga kebutuhan hidup yang kami keluarkan," beber petani dua anak tersebut.

Beberapa waktu yang lalu, melalui momen penyelenggaran Festival Kelapa Internasional (FKI) tahun 2017, Bupati Inhil M Wardan mengharapkan pemerintah pusat menerbitkan regulasi tentang penetapan harga terendah komoditas kelapa.

“Kondisi ini (fluktuasi yang tinggi) sangat mengkhawatirkan. Jika ada standarisasi harga terendah oleh pemerintah pusat, maka stabilitas harga jual kelapa akan menjadi tanggung jawab mereka, ketika terjadi penurunan melewati batas bawah harga jual kelapa,” ucap Bupati Wardan.

Menurut Bupati, memprediksi kapan terjadi fluktuasi memanglah sangat sulit, hal ini dikarenakan sistem perekonomian di Indonesia mengacu pada mekanisme pasar yang ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran suatu barang.

Oleh karena itu, lanjut Bupati lagi, perlu proteksi harga sebagai patron bagi petani terhadap perubahan harga yang begitu dinamis dan berdampak luas.

“Ini semua tentunya, demi kesejahteraan para petani kita yang mayoritas di Inhil,” tutur Bupati.

Bupati Wardan pun membeberkan, kekhawatiran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Inhil pada ihwal fluktuasi harga pun semakin meningkat, disaat produktifitas kelapa tidak berbanding lurus dengan jumlah perusahaan industri pengolahan kelapa di Kabupaten yang memiliki bentangan perkebunan kelapa terluas di Indonesia ini.

“Kalau kita berbicara mekanisme pasar dalam cakupan lokal, yang mana harga ditentukan oleh tingkat permintaan dari pemasok. Maka, Inhil berada dalam keadaan “terancam”, karena tidak ada jaminan untuk permintaan akan terus tinggi atau stabil. Untuk itu perlu, dukungan dari kami (Pemkab) untuk meningkatkan kapasitas serap komoditas kelapa oleh industri melalui FKI,” papar Bupati.

Untuk itulah, peningkatan daya serap industri terhadap komoditas kelapa diasumsikan akan dapat dilakukan melalui pertumbuhan ataupun pengembangan sektor industri pengolahan kelapa.

Melalui sarana promosi seperti FKI inilah, menurut Bupati Wardan, para calon investor akan lebih tahu dan dapat mengukur seberapa besar potensi kelapa di Inhil.

“Baik itu dari sisi produktifitas maupun kapasitas terpasang dari hamparan luas kebun kelapa masyarakat yang pada akhirnya akan menumbuhkan minat para pemodal untuk berinvestasi di bidang industri pengolahan kelapa ini,” ungkap Bupati.

Setelah adanya pertumbuhan jumlah industri pengolahan kelapa, Bupati Wardan meyakini iklim bisnis akan semakin ‘kental,’ setiap industri akan berlomba memberikan permintaan akan komoditas kelapa pada petani.

“Dengan begitu, harga pun akan meningkat sesuai dengan ketentuan harga oleh mekanisme pasar yang pada akhirnya akan memberikan imbas positif berupa kesejahteraan bagi masyarakat petani kelapa di Kabupaten Inhil,” tegas Bupati yang dikenal religius ini. (Ezy)

Ikuti Terus Redaksiriau.co Di Media Sosial

Tulis Komentar